Minggu, 17 November 2013

Konsep Infeksi Rumah Sakit / Infeksi Nosokomial


Konsep Infeksi Rumah Sakit (Bab 1)

1)               Definisi

Infeksi rumah sakit adalah infeksi yang muncul selama seseorang dirawat di rumah sakit (Utama,1999). Depkes RI (2003) mengatakan bahwa infeksi rumah sakit adalah infeksi yang didapat seseorang dalam waktu 3 x 24 jam sejak masuk rumah sakit. Infeksi rumah sakit adalah infeksi yang didapat pasien dari rumah sakit pada saat pasien menjalani proses asuhan keperawatan. Infeksi rumah sakit pada umumnya terjadi pada pasien yang dirawat di ruang seperti ruang perawatan anak, perawatan penyakit dalam, perawatan intensif, dan perawatan isolasi (Darmadi, 2008). Infeksi rumah sakit menurut Brooker (2008) adalah infeksi yang didapat dari rumah sakit yang terjadi pada pasien yang dirawat selama 72 jam dan pasien tersebut tidak menunjukkan tanda dan gejala infeksi pada saat masuk rumah sakit.

Kriteria infeksi rumah sakit menurut DepKes RI, antara lain :

(1)          Waktu mulai dirawat tidak terdapat tanda – tanda klinik infeksi dan tidak sedang dalam masa inkubasi infeksi tersebut.Infeksi terjadi sekurang – kurangnya 3 x 24 jam (72 jam) sejak pasien mulai dirawat.

(2)          Infeksi terjadi pada pasien dengan masa perawatan yang lebih lama dari waktu inkubasi infeksi tersebut.

(3)          Infeksi yang terjadi pada neonatus yang didapat dari ibunya pada saat persalinan atau selama dirawat di rumah sakit

(4)          Bila dirawat di rumah sakit, ada tanda – tanda infeksi dan terbukti bahwa infeksi tersebut di dapat ketika dirawat di rumah sakit yang sama pada waktu lalu, dan belum pernah dilaporkan sebagai infeksi rumah sakit. Infeksi rumah sakit dapat diakibatkan oleh pemberian layanan kesehatan dalam fasilitas perawatan kesehatan. Rumah sakit merupakan tempat sumber terjadinya infeksi karena mengandung populasi mikroorganisme paling tinggi dengan jenis virulen yang mungkin resisten terhadap antibiotik (Perry &Potter,2005).

 

2)               Faktor Penyebab Infeksi rumah sakit

Penularan kuman penyebab infeksi rumah sakit dapat terjadi melalui :

(1)          Infeksi sendiri (self infection), yaitu infeksi rumah sakit berasal dari pasien sendiri (flora endogen) yang berpindah ke tempat atau bagian tubuh lain, seperti kuman Escherichia coli dan staphylococcus aureus, kuman tersebut dapat berpindah melalui benda yang dipakai, seperti linen atau gesekan sendiri (Achmad,2002).

(2)          Infeksi silang (cross infection), yaitu infeksi rumah sakit terjadi akibat penularan dari pasien / orang lain di rumah sakit.

(3)          Infeksi lingkungan (environmental infection), yaitu infeksi yang disebabkan kuman yang didapat di lingkungan rumah sakit.

 
3)             Faktor Determinan

Tiga faktor determinan yang menyebabkan suatu infeksi (termasuk infeksi yang diperoleh di rumah sakit) yaitu : sumber infeksi, rute penyebaran mikroorganisme, dan host yang rentan terhadap infeksi.

(1)        Sumber infeksi

Sumber penyebab infeksi rumah sakit yaitu manusia, benda, aliran udara, makanan, dan hewan sumber mikroorgsnisme pathogen yang paling banyak adalah manusia. Paker (1987) menyatakan kuman penyebab infeksi rumah sakit secara umum dibedakan menjadi tiga tipe:

a.              Mikroorganisme yang konvensional, kuman penyebab penyakit pada orang sehat yang tidak memiliki kekebalan khusus : virus influenza.

b.             Mikroorganisme kondisional. Kuman ini dapat menyebabkan terjadinya infeksi secara klinis pada bagian tubuh tertentu apabila terdapat faktor predisposisi seperti : pseudomonas sp, proteus sp.

c.              Mikroorganisme oppurtunistik, kuman yang menyebabkan penyakit menyeluruh pada orang yang sakit seperti mikroorganisme sp, nocardia.

 

(2)     Rute penyebaran mikroorganisme

Rantai proses infeksi adalah rangkaian proses masuknya kuman ke dalam tubuh manusia yang dapat menimbulkan radang atau penyakit. Proses tersebut melibatkan beberapa unsur, seperti :

a.            Agent, merupakan habitat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme, dapat berupa manusia, binatang, tumbuhan, maupun tanah.

b.             Port-of-entry, merupakan jalan masuknya mikroorganisme ke tempat penampungan dari berbagai macam kuman, seperti pada saluran pernafasan, saluran pencernaan, kulit dan lain-lainnya.

c.              Host, atau penjamu merupakan tempat berkembangnya suatu mikroorganisme yang dapat didukung oleh ketahanan kuman.

d.             Port-of-exit, merupakan tempat keluarnya mikroorganisme dari reservoir, seperti sistim pernafasan, sistim pencernaan, alat kelamin, dan lain-lain.

e.              Mode of Transmision, merupakan jalur yang dapat menyebarkan berbagai kuman mikroorganisme ke berbagai tempat, seperti air, makanan, udara, dan lain-lain.

Infeksi terjadi secara progresif dan beratnya infeksi pada pasien tergantung dari tingkat infeksi, patogenesitas mikroorganisme dan kerentanan host/penjamu. Berbagai komponen dari sistem imun memberikan jaringan kompleks mekanisme yang baik, dan berfungsi mempertahankan tubuh terhadap mikroorganisme asing dan sel-sel ganas. Pada beberapa keadaan, respon spesifik maupun nonspesifik bisa gagal dan hal tersebut mengakibatkan kerusakan pertahanan  host/penjamu.

(3)          Host yang rentan

Kepekaan host sangat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti faktor usia, status gizi, dan kekebalan. Berikut ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi kerentanan pasien terhadap infeksi rumah sakit, yaitu :

a.              Pemakaian antibiotik yang resisten terhadap  kuman.
b.             Pemakaian obat imunosupresif, kortikosteroid dan sitostatika yang menyebabkan daya tahan tubuh pasien menjadi menurun sehingga mudah mengalami infeksi rumah sakit.
c.              Tindakan invasif intravaskuler dan instrumentasi seperti pemasangan infus, transfusi darah, lumbal punctie, vena sectie, biopsi, pengisapan lendir, pemberian oksigen dan naso gastric tube.
d.             Beratnya penyakit yang diderita, semakin parah kondisi pasien, maka semakin mudah terjadi infeksi rumah sakit.


 
4)             Cara Penularan

Proses penyebaran mikroorganisme ke dalam tubuh, dengan cara :
(1)          Kontak tubuh

Kuman masuk ke dalam tubuh melalui proses penyebaran secara langsung melalui sentuhan dengan kulit, sedangkan secara tidak langsung dapat melalui benda yang terkontaminasi kuman.

(2)          Makanan dan minuman

Terjadinya penyebaran dapat melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi.

(3)          Serangga

Contoh proses penyebaran kuman melalui serangga adalah penyebaran penyakit malaria, demam berdarah dan lain-lainnya.

(4)          Udara

Proses penyebaran kuman melalui udara dapat dijumpai pada penyebaran pada sistem pernafasan.

 

5)             Indikator Infeksi rumah sakit

Indikator adalah salah satu cara untuk menilai penampilan dari suatu  kegiatan dengan menggunakan instrumen. Indikator merupakan variabel yang digunakan untuk menilai suatu perubahan (Depkes, 2001). WHO dalam Depkes (2001) menyatakan bahwa, indikator adalah variabel untuk mengukur perubahan. Indikator sering digunakan terutama bila perubahan tersebut tidak dapat diukur. Indikator pengendalian infeksi rumah sakit menurut Depkes tahun 2001 meliputi angka pasien dekubitus, angka kejadian dengan jarum infus/flebitis, dan angka kejadian infeksi luka operasi. Ketiga indikator ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

(1)          Angka pasien dengan dekubitus (Dekubitus Ulcer Rate) 

Luka dekubitus adalah luka pada kulit dan/atau jaringan yang dibawahnya  yang terjadi di rumah sakit karena tekanan yang terus menerus akibat tirah baring.  Luka dekubitus akan terjadi bila pasien tidak dibolak-balik atau dimiringkan  dalam waktu 2 x 24 jam. Angka  pasien dengan  dekubitus adalah banyaknya pasien yang menderita dekubitus dan bukan banyaknya kejadian dekubitus.


(2)          Angka Infeksi karena Jarum Infus/flebitis (Intravenous Canule Infection Rate)

Infeksi karena jarum infus adalah keadaan yang terjadi disekitar tusukan  atau bekas tusukan jarum infus di Rumah Sakit, dan timbul setelah 3 x 24 jam dirawat di rumah sakit kecuali infeksi kulit karena sebab-sebab lain yang tidak didahului oleh pemberian infus atau suntikan lain. Infeksi ini ditandai dengan rasa panas, pengerasan dan kemerahan (kalor, tumor, dan rubor) dengan atau tanpa nanah (pus) pada daerah bekas tusukan jarum infus dalam waktu 3 x 24 jam atau kurang dari waktu tersebut bila infus terpasang. 
 
(3)          Angka Kejadian Luka Operasi (Wound Infection Rate)

Adanya infeksi rumah sakit pada semua kategori luka sayatan operasi bersih  yang dilaksanakan di rumah sakit ditandai oleh rasa panas  (kalor), kemerahan (color), pengerasan  (tumor), dan keluarnya nanah (pus) dalam waktu lebih dari 3 x 24 jam kecuali infeksi rumah sakit yang terjadi bukan pada tempat luka.

 
6)             Peran Keperawatan dalam pencegahan infeksi rumah sakit

Salah satu peran perawat adalah memenuhi kebutuhan dasar manusia, menurut teori Maslow pemenuhan kebutuhan fisiologis merupakan salah satu dasar dari semua kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan fisiologis diantaranya adalah pemberian cairan yang merupakan urutan kedua setelah oksigenasi, cara pemberian cairan di rumah sakit adalah dengan memberikan cairan melalui intravena. Pemberian cairan terapi intravena, merupakan salah satu metode efektif untuk memberikan cairan, elektrolit, nutrisi dan obat melalui pembuluh darah (intravascular). Tindakan ini merupakan tindakan pada pasien yang banyak kehilangan cairan, dehidrasi dan syok. Keberhasilan terapi sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dasar tentang cara pemberian cairan yang aman meliputi keseimbangan cairan elektrolit dan asam basa (Patricia, 2005). Oleh karena itu sangat penting bila seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan dengan selalu memperhatikan kemungkinan terjadinya infeksi rumah sakit di rumah sakit dan perawat bertanggungjawab menyediakan lingkungan yang  aman bagi klien terutama dalam pengendalian infeksi dalam proses keperawatan. Perawat juga bertindak sebagai pelaksana terdepan dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi rumah sakit (Potter & Perry, 2005). Jumlah tenaga pelayanan kesehatan yang kontak langsung dengan pasien, jenis dan jumlah prosedur invasif, terapi yang diterima, lama perawatan, dan standar asuhan keperawatan mempengaruhi risiko terinfeksi. Standar asuhan keperawatan yang mempengaruhi terjadinya infeksi rumah sakit adalah tenaga keperawatan yang memiliki kemampuan dalam menjalankan dan mempraktikkan teknik aseptik, peralatan dan obat yang sesuai, siap pakai dan cukup, ruang perawatan yang secara fisik dan higiene yang memadai, aspek beban kerja dalam pembagian jumlah pasien dengan tenaga keperawatan, dan jumlah pasien yang dirawat (Darmadi, 2008).  Pencegahan infeksi rumah sakit yang dikemukakan oleh WHO (2002) menyatakan bahwa infeksi rumah sakit membutuhkan keterpaduan, pemantauan, dan program dari semua tenaga kesehatan profesional yang meliputi: dokter, perawat, terapis, apoteker, dan lain-lain.

 Pencegahan infeksi rumah sakit yang menjadi kunci utama yaitu:

(1)          Membatasi transmisi organisme antara pasien dalam melakukan perawatan pasien secara langsung melalui cuci tangan, menggunakan sarung tangan, teknik aseptik yang tepat, strategi isolasi, sterilisasi dan teknik desinfektan.

(2)          Mengendalikan lingkungan  yang berisiko untuk infeksi.

(3)          Melindungi pasien dengan penggunaan profilaksis antimikroba yang tepat, nutrisi, dan vaksinasi.

(4)          Membatasi risiko terjadinya infeksi endogenous dengan meminimalkan prosedur invasif, dan mempromosikan penggunaan antimikroba yang optimal.

(5)          Surveilans infeksi, mengidentifikassi dan mengendalikan wabah.

(6)          Pencegahan infeksi pada tenaga kesehatan.

(7)          Meningkatkan pelayanan asuhan keperawatan secara terus menerus dengan memberikan pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar